PAINFUL I
Sabtu, 04 Januari 2014,
ϟ 0 shout(s)


PAINFUL


“Devaa…..” suara teriakan memberhentikan langkah seorang yang bernama Deva itu. Dia membalikkan badannya, seketika orang yang memanggilnya tadi memeluknya tanpa permisi. Orang itu menangis di dada   Deva.                                                                                                                                                               “Lo.. lo “kenapa lagi?” tanya Deva lembut tanpa membalas pelukan gadis itu. Ingin sekali dia menenangkan gadis yang ada didepannya ini walaupun hanya dengan  membalas pelukannya, tapi keadaan berkatalain gadis itu bukan miliknya.                                                                                                                        “Kak Dava, Dev.. dia… dia nyuekin gue”. Seketika wajah deva menjadi muram mendengar nama itu, -DAVA-.  Meskipun orang yang bernama Dava itu memiliki status sebagai –kakak kandung Deva- tetapi  rasa -benci-nya kepada kakak kandungnya itu seperti rasa benci kepada seorang musuh bebuyutan.  Ini semua kerena kebodohannya juga, tak seharusnya dia seperti ini.                                                             “Lo yang sabar ya sicca.. entar gue bilangin ke kak Dava” Deva melepaskan pelukannya dan mencoba menatap wajah gadis itu. Anggukan didapat Deva setelah dia memberanikan diri menatap wajah gadis yang bernama “sicca” itu. Dan tanpa mereka tahu… mereka telah menyakiti hati seseorang yang kini telah melarikan diri entah kemana setelah melihat kejadian tadi.

-oo0oo-


Deva melangkahkan kakinya menuju kantin. Entah kenapa kejadian diistirahat pertama tadi (Sicca menangis) tidak dapat mengalihkan pikirannya kepada yang lain, dia hanya memikirkan gadis itu, Sicca. Dia terlalu khawatir kepada keadaan Sicca.

Deva terus bejalan. Saat melewati  ruang music, terdengar suara seseorang sedang bernyanyi  ditemani suara dentingan piano yang membuat suara itu semakin sempurna.  Deva melangkahkan kakinya ke ruang music itu.

--oo0O0oo--

Melihat orang yang kita sayangi dekat dengan orang lain rasanya sangat sakit. Bahkan lebih sakit dari pada tercucuk jarum.

Kenapa dia harus memiliki perasaan seperti ini? Kenapa ini terjadi padanya? Itulah yang ada didalam pikiran Caca sekarang. Apakah dia salah menyukai bahkan mencintai Deva lebih dari sahabat? Apa dia tidak boleh meresakan apa itu cinta?. Caca merutuki dirinya sendiri, dilangkahkannya kakinya keruang music, hanya ini yang dapat dia lakukan. Meluapkan emosinya ke apa saja yang membuatnya tenang, salah satunya piano.

Caca mulai mengambil posisi. Jari jari lentiknya mulai memainkan tuts-tuts  piano itu. Di tariknya napas dan dikeluarkan secara perlahan, dia mulai melantunkan lagunya.


Everybody's laughing in my mind
Rumors spreading 'bout this other guy
Do you do what you did when you
Did with me?

Mulutnya mulai melantunkan lirik demi lirik dari lagu itu.

Does he love you the way I can?
Did you forget all the plans
That you made with me?
'cause baby I didn't

Meresapi dari setiap liriknya.

That should be me, Holdin' your hand
That should be me, Makin' you laugh
That should be me, This is so sad
That should be me, That should be me,
That should be me, Feelin' your kiss
That should be me, Buyin' you gifts
This is so wrong, I can't go on,
Till you believe that
That should be me, That should be me

Caca mulai melantangkan suaranya, meresapi lirik demi lirik yang keluar dari mulutnya, sungguh saat ini dia ingin menangis saja.

What you doin' to me
You're takin' him where we used to go
Now if you're tryin' to break my heart
It's working 'cause you know that

Jujur… saat ini dia ingin teriak dan mengeluarkan semuanya. Hentikan semua ini!!!

Never should've let you go
I never should've let you go
That should be me
Never should've let you go
That should be me
Never should've let you go
I never should've let you go
That should be me

Bait itu mengakhiri lagu That should be me  yang dia nyanyikan penuh penghayatan.  Dia menutup mata dan Dihembuskannya  napasnya  kuat.

Prok.. prok.. prok..

Tepuk tangan seseorang memberhentikan aktivitasnya, diliriknya arah suara itu. Dan… pemuda itu, dia lagi!!! Batinnya, segera diaturnya posisi kepalanya seperti semula. Mencoba bersikap biasa saja.


“Permainan piano lo makin bagus” puji pemuda itu. Caca hanya tersenyum sedetik kemudian kejadian itu kembali terngiang di otaknya, dia segera tersenyum kecut mengingat itu.                                                          “Makasih” singkat, padat ,jelas. Hanya itu yang dapat diucapkan Caca. Caca melirik Deva melalui ekor matanya, Deva tersenyum. Senyum Deva inilah yang membuatnya susah untuk menjauh dari Deva      
“Drum apa kabar? Lo ga mungkin ninggalain dia kan?” tanya Deva bercanda. Caca meliriknya sebentar dan kemuadian mengatur posisinya seperti semula –menghadap kedepan-
“Ya enggak lah.. drum itu prioritas gue.. piano cuman iseng” jawab Caca muali beradaptasi dengan kehadiran Deva. Deva hanya tersenyum, dia juga maklum. Mana mungkin gadis tomboy seperti Caca dapat meninggalkan drum yang Selama ini telah menjadi teman setianya.

Deva menatap Caca yang sedari tadi hanya melihat ke depan, dan tidak memeprhatikannya berbicara. Dia kenapa? Pertanyaan itu yang sekarang ada dibenak Deva, tidak biasanya Caca seperti ini kepadanya. Dia coba menebak apa yang  sedang terjadi dengan Caca

“lo galau?” tanya Deva sekenanya. Entah kenapa pertanyaan itu terlontar  begitu saja dari mulutnya. Caca hanya menatap Deva heran dan membenarkan apa yang ditanya Deva. Ya dia galau, galau kerena pemuda yang ada disampingnya ini.                                                                                                                                                                  “Eng.. enggak sotoy lu mah” jawab Caca mencoba tersenyum. Deva hanya menggeleng melihat tingkah –sahabatnya- ini.                                                                                                                                                                           “Duet yok?” ajak Deva.  Lagi-lagi pertanyaan Deva membuat Caca heran. Sejak kapan Deva mulai mengajaknya berduet? Tanpa pikir panjang Caca mengangguk.                                                                                “Tapi lagu apa dulu?”                                                                                                                                                                      “Gimana kalo Hurtnya Christina Aguilera? Lo bisa gak?” tanya Deva meremehkan. Caca memerengkan bibirnya tanda kesal akan pertanyaan Deva                                                                                                                       “Why not?” jawab Caca. Deva menaikkan alisnya.

Jari jari lentik Caca mulai menekan tuts-tuts piano itu lagi. Deva mengamati Caca dengan pandangan kagum seakan tak percaya apa yang dilihatnya. Sahabatnya ini sudah bisa bermain piano dengan lancar, padahal seingatnya baru 2bulan terakhir ini Caca les piano                                                                                     

(sambil dengerin lagunya ya ^_^)

Seems like it was yesterday when I saw your face
You told me how proud you were but I walked away
If only I knew what I know today
Ooh ooh

Deva mulai menyanyikan bait pertama dari lagu itu dengan suara khasnya. Caca melirik  Deva dari ekor matanya. Bahkan saat nyanyi charisma Deva terlihat meningkat 20% menurutnya.

I would hold you in my arms
I would take the pain away
Thank you for all you've done
Forgive all your mistakes.

Caca mengambil alih liriknya. Dia menyanyikan dengan penuh penghayatan tanpa dia sadari Deva sedari tadi menatapnya dengan kagum

There's nothing I wouldn't do
To hear your voice again.
Sometimes I wanna call you but I know you won't be there

Caca mulai terbawa suasana. Dia seperti mendapat kekuatan entah dari mana bisa membuatnya terhanyut seperti ini. Deva.. dia menjadi  khawatir dengan Caca. Melihat permainan Caca yang terlalu bersemangat itu



Oh, I'm sorry for blaming you for everything I just couldn't do
And I've hurt myself by hurting you

Deva semakin khawatir dengan Caca. Dilihatnya Caca yang semakin terbawa suasana. Caca terus menekan tuts-tuts  piano itu dengan sekuat tenaganya. Meskipun sebnarnya saat ini dia ingin sekali menangis

Some days I feel broke inside but I won't admit
Sometimes I just wanna hide 'cause it's you I miss
And it's so hard to say goodbye when it comes to this, ooh, whoa

Deva kembali melantunkan lagu itu. Perhatiannya tak lepas dari Caca.

Would you tell me I was wrong?
Would you help me understand?
Are you looking down upon me?
Are you proud of who I am?

There's nothing I wouldn't do
To have just one more chance
To look into your eyes and see you looking back

Mata Deva tak lepas dari wajah mungil Caca.

Oh, I'm sorry for blaming you for everything I just couldn't do
And I've hurt myself, oh, oh, oh.

Caca mengambil alih liriknya. Ditekannya tuts-tuts piano itu. Sempat diliriknya Deva dengan ekor matanya. Wajah Deva, wajahnya begitu khawatir.

If I had just one more day
I would tell you how much that I've missed you since you've been away

Oh, it's dangerous
It's so out of line
To try and turn back time

Tesss..

Deva dapat melihat dengan jelas setitik air keluar dari mata indah Caca. Dan seketika membasahi pipinya. Deva  benar-benar khawatir dengan Caca. Apa pilihan lagu darinya salah? Atau memang Caca benar-benar galau? Aaargghh…. Ingin sekali dia menghentikan duet ini, tapi segera ditariknya keinginan itu. Tidak  tega  rasanya menghentikan begitu saja, sementara Caca sudah sangat terbawa suasana akan lagu itu

I'm sorry for blaming you for everything I just couldn't do
And I've hurt myself by hurting you

Lirik tersebut mengakhiri duet mereka. Caca melihat kesamping, dilihatnya Deva yang sedang menatapnya heran. Caca tersenyum.

Sementara Deva tak mengerti. Masih sempatnya dia tersenyum sementara Deva khawatir melihatnya seperti itu? Huuuh Dasar!!


Bagus kan permainan gue?” tanya Caca tanpa dosa sedikitpun. Deva hanya mengangkat alisnya dan tersenyum.                                                                                                                                                                                           “Iya bagus, lebih bagus lagi  ga pake nangis”. Caca terdiam. Jadi tadi? Deva? Dia lihat Caca menangis?. Caca hanya tertawa                                                                                                                                                                           “Hehehe, lo liat?” tanya Caca tanpa merasa bersalah lagi                                                                                         “Yaiyalah, terus main pianonya juga ga nyantai. Lo benaran gak galau kan?” tanya Deva memastikan. Caca hanya tersenyum lagi.                                                                  
“Enggak Deva. Pertanyaan lo itu mulu, ga bosen apa?” jawab Caca dengan nada bercanda. Deva hanya menatap Caca, sedetik kemuadian mengalihkan pandangannya ke tempat lain

Hening….

Deva dan Caca sekarang berada dalam keheningan. Sampai suara kucing menyadarkan mereka

Meoowww…

Caca terkejut. Deva dapat melihat jelas wajah Caca saat terkejut. Dia terkekeh geli. Caca menatap heran “Kenapa lo?” tanyanya enteng
“lucu”
“apanya?”
“muka lo waktu terkejut hahaha” tawa Deva kini meledak. Caca hanya mengerucutkan bibirnya.
“Iiih ngeselin lo mah, udah ah gue mau kekelas. Pak handoko masuk” Caca segera bergerak dari tempat duduknya dan menuju kekelas. Deva hanya geleng-geleng kepala.

Setelah Caca benar-benar menghilang dari pandangannya. Deva segera mengambil alih piano yang dipakai oleh Caca tadi. Saat ingin menekan tuts piano itu, pandangannya teralihkan oleh “stick drum”. Yup! Stick drum kesayangan Caca. Denagn jahilnya Deva mengambil dan memasukkannya kedalam kantong celananya

“Stick gue nih” suara seorang gadis yang jelas dia ketahui mengalihkan pandangannya. Langsung disambarnya –gadisitu- stick yang ingin dimasukkan oleh Deva. Deva hanya menyengir.                               “Bukannya lo tadi kekelas?” tanya Deva tanpa dosa.                                                                                                                                                  “Mana bisa gue kekelas sedangkan stick gue ketinggalan” jawab Caca cuek. Deva hanya memiringkan mulutnya. Lagi.. sikap cuek Caca terlihat olehnya.                                                                                                                                                     “Lo benaran gak galaukan?” tanya deva untuk yang ketiga kalinya. Caca melotot kearah Deva                    “ANAK AGUNG NGURAH DEVA EKADA SAPUTRA!!! Pertanyaan lo apa ga ada yang lain, huh?” tanyanya geram                                                                                                                                                                               “Ya abis.. jawaban lo cuek gitu. Kaya lagi ada yang dipikirin”                                                                                                                                               “Sotoy lo mah. Gue emang kaya gini kali” telak Caca. Deva terdiam. Kemudian tersenyum licik sambil melihat kearah stick drum kesayangan Caca                                                                                                                                                          “Well, kalo lo benaran galau, stick lo untuk gue. Gimana?” tanya Deva semangat. Caca melirik ke stick kesayangannya itu. Haaaah.. yang benar saja, stick inikan, stick kesayangannya apa lagi kakaknya yang memberikan yang sekarang bersekolah di Aussie. Kalau dia ketahuan galau berarti dia tidak akan melihat stick ini lagi, tapi kalau dia tidak meng-iyakan tawaran Deva, berarti dia akan dicap sebagai “Tomboy galau” OH NO, GOD!!                                                                                                                                  “Oke deal” jawaban Caca membuat Deva tersenyum lebar.


TBC :)
thanks for reading!!
Don't be silent reader :)



Label:



Blog?

Bonjour fellas!!! Welcome to my fiction world!! Hope you enjoy here.. READ, COMMENT AND FOLLOW