PAINFUL
“Devaa…..” suara teriakan memberhentikan langkah seorang
yang bernama Deva itu. Dia membalikkan badannya, seketika orang yang
memanggilnya tadi memeluknya tanpa permisi. Orang itu menangis di dada Deva. “Lo.. lo “kenapa lagi?” tanya
Deva lembut tanpa membalas pelukan gadis itu. Ingin sekali dia menenangkan
gadis yang ada didepannya ini walaupun hanya dengan membalas pelukannya, tapi keadaan berkatalain
gadis itu bukan miliknya.
“Kak Dava, Dev.. dia… dia nyuekin gue”. Seketika wajah deva menjadi
muram mendengar nama itu, -DAVA-. Meskipun orang yang bernama Dava itu memiliki
status sebagai –kakak kandung Deva- tetapi rasa -benci-nya kepada kakak kandungnya itu
seperti rasa benci kepada seorang musuh bebuyutan. Ini semua kerena kebodohannya juga, tak
seharusnya dia seperti ini. “Lo yang sabar ya sicca.. entar gue bilangin ke kak Dava” Deva
melepaskan pelukannya dan mencoba menatap wajah gadis itu. Anggukan didapat
Deva setelah dia memberanikan diri menatap wajah gadis yang bernama “sicca”
itu. Dan tanpa mereka tahu… mereka telah menyakiti hati seseorang yang kini
telah melarikan diri entah kemana setelah melihat kejadian tadi.
-oo0oo-
Deva melangkahkan kakinya menuju kantin. Entah kenapa
kejadian diistirahat pertama tadi (Sicca menangis) tidak dapat mengalihkan
pikirannya kepada yang lain, dia hanya memikirkan gadis itu, Sicca. Dia terlalu
khawatir kepada keadaan Sicca.
Deva terus bejalan. Saat melewati ruang music, terdengar suara seseorang sedang
bernyanyi ditemani suara dentingan piano
yang membuat suara itu semakin sempurna. Deva melangkahkan kakinya ke ruang music itu.
--oo0O0oo--
Melihat orang yang kita sayangi dekat dengan orang lain rasanya
sangat sakit. Bahkan lebih sakit dari pada tercucuk jarum.
Kenapa dia harus memiliki perasaan seperti ini? Kenapa ini
terjadi padanya? Itulah yang ada didalam pikiran Caca sekarang. Apakah dia
salah menyukai bahkan mencintai Deva lebih dari sahabat? Apa dia tidak boleh
meresakan apa itu cinta?. Caca merutuki dirinya sendiri, dilangkahkannya
kakinya keruang music, hanya ini yang dapat dia lakukan. Meluapkan emosinya ke
apa saja yang membuatnya tenang, salah satunya piano.
Caca mulai mengambil posisi. Jari jari lentiknya mulai
memainkan tuts-tuts piano itu. Di
tariknya napas dan dikeluarkan secara perlahan, dia mulai melantunkan lagunya.
Everybody's laughing in my mind
Rumors spreading 'bout this other guy
Do you do what you did when you
Did with me?
Mulutnya mulai melantunkan lirik demi lirik dari
lagu itu.
Does he love you the way I can?
Did you forget all the plans
That you made with me?
'cause baby I didn't
Meresapi dari setiap liriknya.
That should be me, Holdin' your hand
That should be me, Makin' you laugh
That should be me, This is so sad
That should be me, That should be me,
That should be me, Feelin' your kiss
That should be me, Buyin' you gifts
This is so wrong, I can't go on,
Till you believe that
That should be me, That should be me
Caca mulai melantangkan suaranya, meresapi lirik
demi lirik yang keluar dari mulutnya, sungguh saat ini dia ingin menangis saja.
What you doin' to me
You're takin' him where we used to go
Now if you're tryin' to break my heart
It's working 'cause you know that
Jujur… saat ini dia ingin teriak dan
mengeluarkan semuanya. Hentikan semua ini!!!
Never should've let you go
I never should've let you go
That should be me
Never should've let you go
That should be me
Never should've let you go
I never should've let you go
That should be me
Bait itu mengakhiri lagu That should be me yang dia
nyanyikan penuh penghayatan. Dia menutup
mata dan Dihembuskannya napasnya kuat.
Prok.. prok.. prok..
Tepuk tangan seseorang memberhentikan
aktivitasnya, diliriknya arah suara itu. Dan… pemuda itu, dia lagi!!! Batinnya,
segera diaturnya posisi kepalanya seperti semula. Mencoba bersikap biasa saja.
“Permainan piano lo makin bagus”
puji pemuda itu. Caca hanya tersenyum sedetik kemudian kejadian itu kembali
terngiang di otaknya, dia segera tersenyum kecut mengingat itu. “Makasih” singkat, padat ,jelas. Hanya itu yang dapat diucapkan Caca.
Caca melirik Deva melalui ekor matanya, Deva tersenyum. Senyum Deva inilah yang
membuatnya susah untuk menjauh dari Deva
“Drum apa kabar? Lo ga mungkin ninggalain dia
kan?” tanya Deva bercanda. Caca meliriknya sebentar dan kemuadian mengatur
posisinya seperti semula –menghadap kedepan-
“Ya enggak lah.. drum itu prioritas gue.. piano cuman iseng” jawab Caca muali
beradaptasi dengan kehadiran Deva. Deva hanya tersenyum, dia juga maklum. Mana
mungkin gadis tomboy seperti Caca dapat meninggalkan drum yang Selama ini telah
menjadi teman setianya.
Deva menatap Caca yang sedari tadi hanya melihat
ke depan, dan tidak memeprhatikannya berbicara. Dia kenapa? Pertanyaan itu yang
sekarang ada dibenak Deva, tidak biasanya Caca seperti ini kepadanya. Dia coba
menebak apa yang sedang terjadi dengan
Caca
“lo galau?” tanya Deva sekenanya. Entah kenapa pertanyaan
itu terlontar begitu saja dari mulutnya.
Caca hanya menatap Deva heran dan membenarkan apa yang ditanya Deva. Ya dia
galau, galau kerena pemuda yang ada disampingnya ini.
“Eng..
enggak sotoy lu mah” jawab Caca mencoba tersenyum. Deva hanya menggeleng
melihat tingkah –sahabatnya- ini.
“Duet
yok?” ajak Deva. Lagi-lagi pertanyaan Deva membuat Caca heran. Sejak kapan
Deva mulai mengajaknya berduet? Tanpa pikir panjang Caca mengangguk. “Tapi
lagu apa dulu?”
“Gimana kalo Hurtnya Christina Aguilera? Lo bisa gak?” tanya Deva
meremehkan. Caca memerengkan bibirnya tanda kesal akan pertanyaan Deva
“Why not?” jawab Caca. Deva menaikkan alisnya.
Jari jari lentik Caca mulai menekan tuts-tuts
piano itu lagi. Deva mengamati Caca dengan pandangan kagum seakan tak percaya
apa yang dilihatnya. Sahabatnya ini sudah bisa bermain piano dengan lancar,
padahal seingatnya baru 2bulan terakhir ini Caca les piano
(sambil dengerin lagunya ya ^_^)
Seems like it was yesterday when I saw your face
You told me how proud you were but I walked away
If only I knew what I know today
Ooh ooh
Deva mulai menyanyikan bait pertama dari lagu
itu dengan suara khasnya. Caca melirik
Deva dari ekor matanya. Bahkan saat nyanyi charisma Deva terlihat
meningkat 20% menurutnya.
I would hold you in my arms
I would take the pain away
Thank you for all you've done
Forgive all your mistakes.
Caca mengambil alih liriknya. Dia menyanyikan
dengan penuh penghayatan tanpa dia sadari Deva sedari tadi menatapnya dengan
kagum
There's nothing I wouldn't do
To hear your voice again.
Sometimes I wanna call you but I know you won't be there
Caca mulai terbawa suasana.
Dia seperti mendapat kekuatan entah dari mana bisa membuatnya terhanyut seperti
ini. Deva.. dia menjadi khawatir dengan
Caca. Melihat permainan Caca yang terlalu bersemangat itu
Oh, I'm sorry for blaming you for everything I
just couldn't do
And I've hurt myself by hurting you
Deva semakin khawatir dengan Caca. Dilihatnya
Caca yang semakin terbawa suasana. Caca terus menekan tuts-tuts piano itu dengan sekuat tenaganya. Meskipun
sebnarnya saat ini dia ingin sekali menangis
Some days I feel broke inside but I won't admit
Sometimes I just wanna hide 'cause it's you I miss
And it's so hard to say goodbye when it comes to this, ooh, whoa
Deva kembali melantunkan lagu itu. Perhatiannya
tak lepas dari Caca.
Would you tell me I was wrong?
Would you help me understand?
Are you looking down upon me?
Are you proud of who I am?
There's nothing I wouldn't do
To have just one more chance
To look into your eyes and see you looking back
Mata Deva tak lepas dari wajah mungil Caca.
Oh, I'm sorry for blaming you for everything I
just couldn't do
And I've hurt myself, oh, oh, oh.
Caca mengambil alih liriknya. Ditekannya
tuts-tuts piano itu. Sempat diliriknya Deva dengan ekor matanya. Wajah Deva,
wajahnya begitu khawatir.
If I had just one more day
I would tell you how much that I've missed you since you've been away
Oh, it's dangerous
It's so out of line
To try and turn back time
Tesss..
Deva dapat melihat dengan jelas setitik air keluar
dari mata indah Caca. Dan seketika membasahi pipinya. Deva benar-benar khawatir dengan Caca. Apa pilihan
lagu darinya salah? Atau memang Caca benar-benar galau? Aaargghh…. Ingin sekali
dia menghentikan duet ini, tapi segera ditariknya keinginan itu. Tidak tega
rasanya menghentikan begitu saja, sementara Caca sudah sangat terbawa
suasana akan lagu itu
I'm sorry
for blaming you for everything I just couldn't do
And I've hurt myself by hurting you
Lirik
tersebut mengakhiri duet mereka. Caca melihat kesamping, dilihatnya Deva yang
sedang menatapnya heran. Caca tersenyum.
Sementara
Deva tak mengerti. Masih sempatnya dia tersenyum sementara Deva khawatir
melihatnya seperti itu? Huuuh Dasar!!
“Bagus kan permainan gue?” tanya Caca tanpa dosa
sedikitpun. Deva hanya mengangkat alisnya dan tersenyum.
“Iya bagus, lebih bagus lagi ga
pake nangis”. Caca terdiam. Jadi tadi? Deva? Dia lihat Caca menangis?. Caca
hanya tertawa
“Hehehe, lo liat?” tanya Caca tanpa merasa bersalah lagi
“Yaiyalah, terus main pianonya juga ga nyantai. Lo benaran gak galau
kan?” tanya Deva memastikan. Caca hanya tersenyum lagi.
“Enggak Deva. Pertanyaan lo itu mulu, ga bosen
apa?” jawab Caca dengan nada bercanda. Deva hanya menatap Caca, sedetik
kemuadian mengalihkan pandangannya ke tempat lain
Hening….
Deva dan Caca sekarang berada dalam keheningan.
Sampai suara kucing menyadarkan mereka
Meoowww…
Caca terkejut. Deva dapat melihat jelas wajah
Caca saat terkejut. Dia terkekeh geli. Caca menatap heran “Kenapa lo?” tanyanya enteng
“lucu”
“apanya?”
“muka lo waktu terkejut hahaha” tawa Deva kini meledak. Caca hanya
mengerucutkan bibirnya.
“Iiih ngeselin lo mah, udah ah gue mau kekelas. Pak handoko masuk” Caca segera
bergerak dari tempat duduknya dan menuju kekelas. Deva hanya geleng-geleng
kepala.
Setelah Caca benar-benar menghilang dari
pandangannya. Deva segera mengambil alih piano yang dipakai oleh Caca tadi.
Saat ingin menekan tuts piano itu, pandangannya teralihkan oleh “stick drum”.
Yup! Stick drum kesayangan Caca. Denagn jahilnya Deva mengambil dan
memasukkannya kedalam kantong celananya
“Stick gue nih” suara seorang gadis yang jelas dia ketahui mengalihkan
pandangannya. Langsung disambarnya –gadisitu- stick yang ingin dimasukkan oleh Deva. Deva hanya menyengir. “Bukannya lo
tadi kekelas?” tanya Deva tanpa dosa.
“Mana bisa gue kekelas sedangkan stick gue ketinggalan” jawab Caca cuek.
Deva hanya memiringkan mulutnya. Lagi.. sikap cuek Caca terlihat olehnya.
“Lo benaran gak galaukan?” tanya deva untuk yang ketiga kalinya. Caca
melotot kearah Deva
“ANAK AGUNG NGURAH DEVA EKADA SAPUTRA!!! Pertanyaan lo apa ga ada yang
lain, huh?” tanyanya geram “Ya abis.. jawaban lo cuek gitu. Kaya lagi ada yang dipikirin”
“Sotoy lo mah. Gue emang kaya gini kali” telak Caca. Deva terdiam.
Kemudian tersenyum licik sambil melihat kearah stick drum kesayangan Caca
“Well, kalo lo benaran galau, stick lo untuk gue. Gimana?” tanya Deva
semangat. Caca melirik ke stick kesayangannya itu. Haaaah.. yang benar saja,
stick inikan, stick kesayangannya apa lagi kakaknya yang memberikan yang
sekarang bersekolah di Aussie. Kalau dia ketahuan galau berarti dia tidak akan
melihat stick ini lagi, tapi kalau dia tidak meng-iyakan tawaran Deva, berarti
dia akan dicap sebagai “Tomboy galau” OH NO, GOD!!
“Oke deal” jawaban Caca membuat Deva tersenyum lebar.
TBC :)
thanks for reading!!
Don't be silent reader :)